Swadhyaya Brahma Widya, Membaca Kosmologi Manawa Dharmasastra
Dari konsep Hiranyagarbha hingga etika hidup, kajian kosmologi Hindu dibaca sebagai panduan relasi manusia dan alam
Selasa, 03 Februari 2026
Narasumber Swadhyaya Fakultas Brahma Widya membahas kosmologi penciptaan dalam Mānava Dharmaśāstra sebagai landasan etika relasi manusia, alam, dan kehidupan dalam diskusi yang digelar di Aula Fakultas Brahma Widya, Denpasar, Senin (2/2/2026). (Foto: Dok. Fakultas Brahma Widya)
Males Baca?DENPASAR,SULUHRAKYAT.id - Dari mana alam semesta berasal dan bagaimana manusia seharusnya memosisikan diri di dalamnya menjadi pokok bahasan Swadhyaya Fakultas Brahma Widya yang digelar di Aula Fakultas Brahma Widya, Denpasar, Senin (2/2/2026).
Mengangkat tema “Penciptaan dalam Mānava Dharmaśāstra”, kegiatan ini mengajak peserta membaca kosmologi Hindu bukan sebagai narasi mitologis semata, melainkan sebagai kerangka etika yang relevan dengan tantangan kehidupan hari ini.
Narasumber pertama, Ida Bagus Putu Adnyana, menjelaskan bahwa menurut Mānava Dharmaśāstra, penciptaan alam semesta berlangsung secara bertahap dan penuh makna filosofis. Proses penciptaan diawali dari kondisi sunyi dan gelap sebagai fase pra-kehidupan.
“Pada tahap awal, realitas belum memiliki bentuk dan belum mengenal dualitas. Semua masih bersifat laten,” ujar Adnyana.
Ia menambahkan, dari kondisi tersebut kemudian lahir konsep Hiranyagarbha atau Telur Emas sebagai simbol awal mula kehidupan. “Hiranyagarbha menjadi wadah kosmis tempat alam semesta bertumbuh. Dari sanalah langit, bumi, dan seluruh unsur kehidupan terbentuk,” katanya.
Menurut Adnyana, kosmologi ini menegaskan bahwa alam semesta lahir dari kesadaran ilahi yang tertata. “Karena lahir dari keteraturan, alam semesta tidak boleh diperlakukan secara serampangan. Ada tanggung jawab etis manusia di dalamnya,” tegasnya.
Sementara itu, I Putu Adi Setiawan menyoroti relevansi ajaran kosmologi tersebut dalam kehidupan sosial kontemporer. Ia menekankan bahwa kosmologi Hindu menempatkan seluruh makhluk hidup dalam satu kesatuan asal-usul.
“Manusia, alam, dan seluruh kehidupan berasal dari sumber yang sama. Ketika satu bagian rusak, bagian lain pasti ikut terdampak,” ujarnya.
Komentar