Siwaratri Dimaknai Akademik, Swadhyaya Resmi Diluncurkan
Senin, 19 Januari 2026
Suasana Rembug Sastra Siwaratri dan peluncuran program Swadhyaya Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Sabtu (17/1/2026), sebagai upaya memaknai Siwaratri dalam perspektif akademik dan spiritual. (Foto: Ist)
Males Baca?DENPASAR,SULUHRAKYAT.id - Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar memaknai Hari Raya Siwaratri tidak semata sebagai laku ritual, tetapi sebagai ruang refleksi akademik dan spiritual. Hal itu ditandai dengan penyelenggaraan Rembug Sastra Siwaratri yang dirangkaikan dengan peluncuran program Swadhyaya, Sabtu (17/1/2026), di Aula Lantai 3 Fakultas Brahma Widya.
Kegiatan yang mengusung tema “Saking Śūnya Nuju Rakṣaning Jagat” tersebut menegaskan pentingnya kesadaran kosmis, pengendalian diri, serta tanggung jawab etis manusia dalam menjaga keharmonisan semesta. Acara dihadiri pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, pemangku/pinandita, serta pemerhati sastra dan spiritualitas Hindu.
Dekan Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, M.A., menegaskan bahwa Siwaratri perlu dibaca lebih luas dalam konteks akademik. Menurutnya, peluncuran Swadhyaya merupakan langkah strategis membangun tradisi kajian berkelanjutan terhadap Veda dan Susastra Veda di lingkungan kampus.
“Siwaratri tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi momentum kebangkitan kesadaran intelektual dan spiritual. Swadhyaya kami rancang sebagai ruang dialog antara teks, konteks, dan realitas kehidupan,” tegas Wayan Wastawa dalam sambutannya.
Ia menambahkan, melalui Swadhyaya, civitas akademika diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan etis dalam menyikapi persoalan zaman.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan pembukaan resmi, pemutaran trailer program Swadhyaya, serta sesi rembug sastra. Diskusi utama menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. I Gede Suwantana, M.Ag., penekun Vedanta, dan Gede Endy Kumara Gupta, S.IP., M.Ag., penekun Jyotisa.
Dalam paparannya, Gede Suwantana menekankan Siwaratri sebagai laku penyadaran diri dan pendalaman makna śūnya dalam filsafat Vedanta. Sementara Gede Endy Kumara Gupta mengulas Siwaratri dari perspektif Jyotisa, khususnya kaitan antara waktu sakral, siklus kosmis, dan makna tilem sebagai fase transformasi spiritual.
Diskusi berlangsung dinamis hingga larut malam, menunjukkan antusiasme tinggi peserta. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi meditasi (sound healing) dan persembahyangan bersama hingga tengah malam, serta persembahyangan penutup pada pagi hari pukul 06.00 WITA.
Ketua Panitia kegiatan, Putu Eka Sura Adnyana, menyampaikan bahwa Rembug Sastra Siwaratri dan peluncuran Swadhyaya dirancang sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi diskusi sastra dan perenungan spiritual di lingkungan akademik.
“Swadhyaya akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan, bertepatan dengan Purnama atau Tilem. Ini adalah ikhtiar menghadirkan ruang belajar bersama yang konsisten dalam mengkaji Veda dan Susastra Veda serta relevansinya dengan persoalan kontemporer,” ujarnya.
Ke depan, program Swadhyaya diarahkan menjadi forum kajian akademik-keagamaan Hindu yang berkelanjutan, membahas dimensi filsafat, teologi, kosmologi, hingga isu-isu kehidupan modern. Fakultas Brahma Widya menegaskan komitmennya menjadikan swadhyaya sebagai jalan penguatan intelektualitas, spiritualitas, dan tanggung jawab menjaga keharmonisan jagat. (Dewa)
Komentar