Sekolah Rakyat, Cara Negara Memutus Warisan Kemiskinan
Senin, 12 Januari 2026
Menteri Sosial Saifullah Yusuf meresmikan Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). Program ini dirancang sebagai strategi negara untuk memutus mata rantai kemiskinan antar generasi melalui pendidikan berasrama dan layanan terpadu. (Foto: Tangkapan Layar YouTube Setpres BPMI)
Males Baca?BANJARBARU - Negara mulai menarik garis tegas terhadap kemiskinan yang selama ini diwariskan lintas generasi. Melalui program Sekolah Rakyat, pemerintah menegaskan bahwa anak-anak dari keluarga paling miskin tidak boleh lagi tumbuh dalam lingkaran keterbatasan yang sama. Pendidikan ditempatkan sebagai intervensi awal dan menyeluruh untuk memutus mata rantai kemiskinan secara berkelanjutan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan Sekolah Rakyat dirancang bukan sekadar sebagai program pendidikan, melainkan strategi negara untuk menghentikan kemiskinan sejak dari hulunya. Pernyataan itu disampaikan saat peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
“Sekolah Rakyat ini kami rancang untuk memotong mata rantai kemiskinan. Negara tidak boleh membiarkan anak-anak dari keluarga miskin tumbuh dan kembali terjebak dalam kondisi yang sama,” ujar Saifullah Yusuf.
Menurut Mensos, program ini merupakan penerjemahan langsung dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang tidak menghendaki kemiskinan menjadi nasib yang diwariskan.
“Kami berupaya menjangkau mereka yang paling tidak mampu. Anak-anak ini harus diberi kesempatan yang adil sejak awal, agar kemiskinan tidak lagi menjadi warisan sosial,” kata Gus Ipul.
Sekolah Rakyat merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto yang dikembangkan dengan pendekatan pendidikan berasrama dan layanan komprehensif.
"Hingga saat ini, Sekolah Rakyat telah hadir di 166 titik yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota. Pelaksanaannya dimulai bertahap sejak Juli 2025 dengan 60 sekolah, disusul 37 sekolah pada Agustus 2025, serta 66 sekolah pada akhir September hingga awal Oktober 2025," tegasnya.
Menurut Gus Ipul, program ini telah menjangkau 15.954 siswa dengan dukungan 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan. Seluruh siswa tinggal di asrama yang layak dan mendapatkan layanan dasar secara penuh, mulai dari pemeriksaan kesehatan menyeluruh hingga pemenuhan gizi yang dipantau.
“Anak-anak ini tidak hanya disekolahkan, tetapi dirawat, dijaga kesehatannya, dan dipastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi,” ujar Gus Ipul.
Komentar