Putri Koster Apresiasi Pementasan Jaratkaru, Kritik Disampaikan dengan Etika
Selasa, 24 Februari 2026
Pementasan teater Jaratkaru oleh Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Senin (23/2/2026). (Foto: Pemprov Bali)
Males Baca?DENPASAR,SULUHRAKYAT.id - Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ni Putu Putri Suastini Koster, mengapresiasi pementasan teater Jaratkaru: Lampan lan Utang Waras Mekutang yang dibawakan Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya) dalam rangka Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (23/2/2026).
Dalam pementasan tersebut, kritik sosial terkait persoalan banjir dan kemacetan diselipkan melalui pendekatan seni pertunjukan. Putri Koster menilai kritik merupakan bagian penting dari dinamika berkesenian, selama disampaikan dengan etika.
“Jangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi tetap harus mengedepankan etika,” ujarnya.
Ia menegaskan, aktor yang baik adalah mereka yang mampu menyampaikan kritik secara tajam tanpa melukai pihak yang dikritik. Sebagai bagian dari pemerintahan, ia mengaku tidak alergi terhadap kritik, namun mengingatkan agar ekspresi seni tidak mengajarkan makian atau perundungan.
“Tapi tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan. Itu tidak bagus,” katanya.
Terkait kualitas pertunjukan, Putri Koster menilai para pemain mampu menghadirkan konsep teater yang matang. Menurutnya, para aktor berhasil memadukan pemahaman teori seni pertunjukan dengan penguasaan teknik di atas panggung.
Baca juga:
Ny Putri Koster Ajak Warga Bali Gotong Royong Lewat Gerakan Kulkul PKK Berbasis Tri Hita Karana
“Konsepnya bagus, anak-anak ini luar biasa. Konsepnya bisa ibu lihat dengan jelas, dibarengi dengan kemampuan olah vokal dan olah tubuh yang bagus. Ini yang ibu suka,” ungkapnya.
Ia juga mengaku tersentuh melihat generasi muda tampil di panggung, mengingat dirinya telah berkecimpung di dunia seni pertunjukan sejak 1978. Menurutnya, generasi saat ini memiliki akses pembelajaran yang lebih luas di era digital.
Selain memberikan apresiasi, ia menyampaikan masukan terkait teknis pertunjukan, khususnya harmonisasi antara suara gamelan dan volume vokal pemain agar penyampaian pesan lebih optimal.
Komentar