Prodi Filsafat Hindu UHN Gelar Widya Samhita I, Angkat Yoga Patañjali sebagai Solusi Krisis Kesehatan Mental

Kamis, 23 Juli 2026

Card image

diselenggarakan Program Studi Filsafat Hindu Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar bekerja sama dengan Pusat Kajian Darsana di Aula Lantai III Fakultas Brahma Widya, Kamis (23/7/2026). (Foto: Ist)

Males Baca?

DENPASAR,SULUHRAKYAT.id - Program Studi Filsafat Hindu, Fakultas Brahma Widya, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar bekerja sama dengan Pusat Kajian Darsana menggelar forum akademik Widya Samhita I bertema "Filsafat Yoga Patañjali: Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Kesadaran Spiritual" di Aula Lantai III Fakultas Brahma Widya, Kamis (23/7/2026).

Kegiatan ini digelar sebagai respons terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, depresi, burnout, krisis identitas, hingga dampak negatif perkembangan teknologi digital terhadap kualitas kehidupan manusia.

Forum ilmiah tersebut menghadirkan narasumber I Gusti Putu Gede Widiana, S.Fil., M.A. dan Dr. Gede Endy Kumara Gupta, S.IP., M.Ag., dengan moderator Putu Eka Sura Adnyana. Kegiatan menjadi ruang diskusi akademisi, mahasiswa, dan pemerhati filsafat untuk mengkaji relevansi ajaran Yoga Patañjali dalam menjawab tantangan sosial dan kesehatan mental di era modern.

Membuka kegiatan, Dekan Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Wastawa, M.A., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap persoalan masyarakat melalui pengembangan filsafat Hindu yang kontekstual.

"Perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan gagasan yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Filsafat Yoga Patañjali mengajarkan pentingnya pengendalian pikiran, pembentukan karakter, dan keseimbangan spiritual sebagai fondasi membangun manusia yang sehat, bijaksana, dan berintegritas," ujar Prof. Wastawa.

Dalam pemaparan materi dijelaskan bahwa konsep yogaś citta-vṛtti-nirodhaḥ, yakni pengendalian gejolak pikiran, menjadi fondasi kesehatan mental menurut Yoga Sūtra Patañjali. Delapan tahapan Aṣṭāṅga Yoga Yama, Niyama, Āsana, Prāṇāyāma, Pratyāhāra, Dhāraṇā, Dhyāna, dan Samādhi dipandang sebagai proses pembinaan manusia secara utuh melalui pembentukan etika, disiplin diri, pengelolaan emosi, konsentrasi, hingga pencapaian kesadaran spiritual.

Ketua Pusat Kajian Darsana, Dr. Gede Endy Kumara Gupta, menilai pendekatan filsafat Hindu memberikan kontribusi penting dalam penguatan kesehatan mental karena mengintegrasikan dimensi intelektual, emosional, moral, dan spiritual.

"Kesehatan mental tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan medis atau psikologis. Yoga Patañjali menawarkan paradigma yang utuh mengenai bagaimana manusia mengelola pikirannya, membangun karakter, serta mencapai kehidupan yang lebih bermakna," tegasnya.

Sementara itu, I Gusti Putu Gede Widiana menekankan bahwa filsafat Hindu harus melahirkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat melalui pendidikan karakter, literasi kesehatan mental, dan budaya reflektif di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.

Melalui Widya Samhita I, Program Studi Filsafat Hindu bersama Pusat Kajian Darsana menegaskan komitmennya menjadikan filsafat Hindu sebagai sumber solusi akademik terhadap berbagai persoalan masyarakat. Forum ini diharapkan menjadi awal pengembangan penelitian, publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat yang mengintegrasikan filsafat, kesehatan mental, dan penguatan spiritual sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. (Dewa)

 


Komentar

Berita Lainnya