Politik Simbolik dan Kharisma Populis Kang Dedi
Rabu, 11 Juni 2025
KDM. (Ist)
Males Baca?FENOMENA Adnan Prasetyo, remaja Brebes yang mengayuh sepeda ratusan kilometer demi bertemu KDM membuka pertanyaan politik yang lebih dalam, mengapa seorang anak memilih menemui tokoh publik ketimbang mencari institusi negara?
Dalam konteks ini, KDM bukan sekadar figur viral, melainkan ekspresi dari persoalan struktural absennya negara dalam bentuk yang bisa dirasakan secara nyata oleh rakyat kecil.
KDM menjelma dalam formasi yang oleh Pierre Ostiguy disebut sebagai populisme bergaya rendah (low-style populism): pendekatan politik yang menggunakan bahasa rakyat, simbol lokal, dan narasi emosional.
Ia hadir di pasar, menyapa pedagang, masuk ke ruang-ruang yang sering diabaikan elit. Semuanya dikemas melalui media sosial yang menekankan kedekatan, bukan kebijakan.
Baca juga:
Anak Agung Bagus Sutedja: Jejak yang Tenang dari Seorang Pemimpin
Kehadiran ini menjawab kebutuhan dasar rakyat: merasa diakui dan didengarkan. Seperti ditegaskan Murray Edelman dalam The Symbolic Uses of Politics, tindakan politik yang tampak rasional seringkali digerakkan oleh simbol dan penafsiran emosional, bukan perhitungan rasional yang terstruktur.
Dalam lanskap ini, politik tidak lagi hanya soal program, melainkan soal pengalaman. Rakyat tidak mencari argumen, mereka merespons gestur. Mereka tidak menunggu prosedur, melainkan menyambut wajah yang hadir.
Dalam kerangka Max Weber, kharisma Kang Dedi tidak lahir dari sistem legal-rasional, melainkan dari otoritas personal yang diakui oleh masyarakat karena kehadirannya yang konsisten dan langsung.
Kharisma adalah bentuk pengakuan emosional yang muncul dalam ruang hampa kelembagaan.
Max Weber, Ekonomi dan Masyarakat
Baca juga:
Ujian Demokrasi dalam Tafsir Hukum dan Etika
Namun, penting untuk melihat fenomena ini secara kritis. Antonio Gramsci mengingatkan bahwa ketika representasi formal tak lagi dipercaya, akan muncul figur-figur yang menghimpun keresahan kolektif ke dalam satu wajah simbolik.
Ketika yang lama sekarat dan yang baru belum bisa lahir, berbagai gejala yang menyimpang akan bermunculan.
Antonio Gramsci, Catatan dari Penjara
Dalam terang ini, KDM bisa dibaca sebagai narasi bersama yang menyatukan tuntutan tercecer kesejahteraan, pengakuan, rasa keadilan ke dalam satu simbol yang akrab. Tetapi justru di situlah tantangannya: ketika negara digantikan oleh figur, maka hubungan antara rakyat dan kekuasaan menjadi terlalu bergantung pada kemampuan personal, bukan keberlanjutan institusional.
Cornelis Lay pernah menulis bahwa demokrasi lokal pascareformasi kerap bergantung pada figur kuat, bukan institusi yang mapan. Kondisi ini membuka ruang partisipasi langsung, tetapi juga menyimpan risiko personalisasi yang tinggi.
Baca juga:
Ujian Demokrasi dalam Tafsir Hukum dan Etika
Di banyak daerah, figur menggantikan kelembagaan. Demokrasi berjalan, tetapi tidak selalu dalam jalur institusionalnya.
Cornelis Lay, Kepemimpinan Politik Lokal (2012)
Dalam hal ini, KDM adalah gejala sekaligus jawaban. Ia muncul dari kegagalan sistem membangun kepercayaan, dan menjawab kerinduan rakyat akan negara yang terasa hadir. Namun seperti semua bentuk politik simbolik, keberhasilannya hanya akan berkelanjutan jika ia mampu melewati batas personal dan menjadi bagian dari transformasi kelembagaan.
Suluh Rakyat berpandangan bahwa politik simbolik tidak harus ditolak, tetapi perlu dibaca sebagai sinyal: bahwa rakyat menginginkan negara yang lebih manusiawi, lebih terhubung, dan lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Dewa Fathur
- TAG:
- Kang Dedi Mulyadi
- Adnan Prasetyo Brebes
- Politik Simbolik Indonesia
- Populisme Lokal
- Kharisma Politik
- Absennya Negara
- Representasi Rakyat
- Politik Keadaban
- Figur Populis
- Krisis Kelembagaan
- Bedah Politik Suluh Rakyat
- Pierre Ostiguy
- Max Weber
- Antonio Gramsci
- Demokrasi Emosional
- Fenomena Politik Viral
- Media Sosial Dan Politik
- Demokrasi Pascareformasi
- Cornelis Lay
- Kritik Politik Representatif
Komentar