Menguatkan Susastra dan Jati Diri Umat Hindu: Pengabdian UHN Sugriwa Dalam Bintek LPDG Provinsi Lampung

Senin, 13 April 2026

Card image

Bimbingan Teknis (Bimtek) Utsawa Dharmagita LPDG Provinsi Lampung yang menghadirkan tim pengabdian UHN Sugriwa Denpasar, dengan penekanan pada penguatan susastra Hindu sebagai fondasi jati diri umat, 10–12 April 2026 di STAH Lampung. (Foto: Ist)

Males Baca?

BANDAR LAMPUNG, SULUHRAKYAT.id - Upaya memperkuat fondasi kebudayaan dan spiritual umat Hindu terus didorong melalui jalur pendidikan dan pelatihan berbasis susastra. Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar berkolaborasi dengan Lembaga Pengembangan Dharmagita (LPDG) Provinsi Lampung menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Utsawa Dharmagita selama tiga hari, 10–12 April 2026 di STAH Lampung. Kegiatan ini diarahkan sebagai ruang peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam seni tutur dan sastra keagamaan Hindu yang selama ini menjadi pilar pembentukan identitas umat.

Kegiatan dibuka pada Jumat (10/4) dengan seremoni yang berlangsung khidmat. Rangkaian acara dimulai dari registrasi peserta, doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, laporan panitia, hingga sambutan dari Kementerian Agama Provinsi Lampung.

Kabid Hindu Kemenag Lampung, Jumadi, S.Ag menegaskan pentingnya keberlanjutan pembinaan susastra Hindu sebagai bagian dari pendidikan umat.

“Susastra Hindu bukan hanya warisan budaya, tetapi juga media pendidikan spiritual yang harus terus dibina secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, Kehadiran UHN Sugriwa menjadi penting karena mampu menghadirkan pendekatan akademik yang sistematis dalam pembinaan umat Hindu.

Peran tersebut terlihat dari keterlibatan langsung tim pengabdian kepada masyarakat UHN Sugriwa yang memimpin jalannya Bimtek. Tim ini diketuai oleh Dr. I Nyoman Piartha, S.Ag., M.Fil.H dengan sekretaris Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H.

Dalam sesi palawakya, Dr. I Nyoman Piartha menekankan pentingnya keseimbangan antara teknik dan penghayatan.

“Palawakya bukan sekadar kemampuan berbicara. Di dalamnya ada penguasaan guru bhasa, vokal, ekspresi, dan yang paling penting adalah bagaimana nilai dharma itu benar-benar dihidupkan dalam narasi,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. I Made Adi Surya Pradnya dalam materi dharma wacana menyoroti pentingnya struktur dan relevansi pesan.

“Dharma wacana tidak cukup hanya retorika. Ia harus memiliki struktur yang jelas, argumentasi yang kuat, dan mampu menjawab persoalan umat secara kontekstual,” jelasnya.


Halaman :

Komentar

Berita Lainnya





Ketika Pendidikan Tinggi Bertemu Lapangan Kerja