Koster Tegaskan Peran Strategis WHDI dalam Menjaga Adat dan Tradisi Bali

Selasa, 10 Februari 2026

Card image

Gubernur Bali Wayan Koster menerima audiensi jajaran WHDI Provinsi Bali di Kantor Gubernur Bali, Denpasar, membahas peran strategis organisasi perempuan Hindu dalam menjaga adat dan tradisi Bali. (Foto: Pemprov Bali)

Males Baca?

DENPASAR,SULUHRAKYAT.id - Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Bali memiliki peran strategis dalam menjaga keajegan adat, tradisi, dan kearifan lokal Bali, terutama melalui peran perempuan di tingkat keluarga dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menerima audiensi jajaran WHDI Provinsi Bali di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Senin (9/2/2026). Menurut Koster, keberlanjutan adat dan tradisi Bali sangat ditentukan oleh peran organisasi perempuan yang bersentuhan langsung dengan pendidikan keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.

“Peran WHDI sangat strategis dan kini semakin penting, terutama dalam menjaga, menanamkan, dan mewariskan nilai adat, tradisi, serta budaya Bali kepada generasi berikutnya,” tegas Koster.

Ia menekankan bahwa umat Hindu Bali perlu menjalankan kehidupan beragama dengan baik dan benar sesuai kearifan lokal Bali, serta tidak mudah terpengaruh oleh ajaran dari luar yang tidak sejalan dengan adat dan tradisi setempat.

“Adat, tradisi, dan tata cara keagamaan Hindu Bali harus tetap dijaga kemurniannya agar tidak tergerus oleh pengaruh yang tidak sesuai dengan budaya Bali,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua WHDI Provinsi Bali, Tjok Istri Sri Rasmawati Yudhara, melaporkan bahwa WHDI Bali telah menyelenggarakan Musyawarah Provinsi Luar Biasa (Musprovlub) dan memilih ketua baru secara sah dan demokratis.

Dalam audiensi tersebut, WHDI Bali juga menyampaikan harapan agar Gubernur Bali berkenan menjadi pelindung organisasi guna memperkuat peran WHDI dalam mendukung pembangunan Bali yang berlandaskan adat, agama, dan nilai-nilai Hindu.

Selain agenda organisasi, WHDI Bali memaparkan rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun WHDI yang difokuskan pada pelestarian budaya Bali. Sejumlah lomba digelar sebagai media edukasi dan regenerasi budaya, seperti wirama, kidung, dharma wacana, gebogan, serta jejaitan (pejati).

“Kegiatan ini kami rancang sebagai ruang edukasi dan regenerasi budaya agar nilai-nilai adat dan tradisi Bali tetap hidup di tengah keluarga dan masyarakat,” ujar Tjok Istri Sri Rasmawati Yudhara.

Gubernur Koster menilai program-program tersebut sejalan dengan arah pembangunan Bali melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan adat, agama, tradisi, seni, dan budaya sebagai roh utama pembangunan daerah.

Audiensi tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara Pemerintah Provinsi Bali dan WHDI dalam menjaga keberlanjutan adat dan tradisi Bali di tengah dinamika perubahan sosial. (Eka)
 


Komentar

Berita Lainnya





Ketika Pendidikan Tinggi Bertemu Lapangan Kerja