Komisi Tinggi dan Tekanan Pasar, Seniman Bali Diminta Jaga Nilai Karya
Minggu, 15 Februari 2026
Ny. Putri Koster menghadiri lukisan Aboedt Art di Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Sabtu (14/2), sekaligus mengingatkan seniman agar tidak menurunkan nilai karya di tengah komisi tinggi dan tekanan pasar seni. (Foto: Pemprov Bali)
Males Baca?GIANYAR,SULUHRAKYAT.id - Di tengah pasar seni yang belum sepenuhnya pulih, persoalan komisi tinggi dan posisi tawar perupa kembali mengemuka. Seniman Bali diingatkan untuk tidak menurunkan nilai karya hanya demi mengejar penjualan di saat tekanan ekonomi masih terasa.
Pesan itu disampaikan Ketua Dekranasda Bali, Ny Putri Koster, saat membuka pameran lukisan Aboedt Art di Lodtunduh, Ubud, Kabupaten Gianyar, Sabtu (14/2/2026).
Ny. Putri Koster menekankan bahwa kualitas dan akar tradisi tidak boleh dikorbankan oleh kondisi pasar yang belum stabil.
Menurutnya, pengalaman saat pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bahwa perajin dan perupa yang konsisten menjaga mutu akan lebih siap ketika situasi kembali membaik.
“Pelestarian aliran seni lukis Bali harus terus dijaga, dengan akar tradisi yang kuat sebagai fondasi utama,” ujarnya.
Namun di lapangan, tantangan tidak berhenti pada soal kreativitas. Sejumlah perupa mengeluhkan tingginya komisi perantara atau pemandu yang membawa pembeli, yang dalam praktiknya kerap memangkas margin seniman. Dalam situasi pasar yang sepi, posisi tawar pelukis menjadi semakin lemah.
Baca juga:
Ny Putri Koster Ajak Warga Bali Gotong Royong Lewat Gerakan Kulkul PKK Berbasis Tri Hita Karana
Seniman Aboedt, penggagas gerakan bertema Kebangkitan Seni Warna Indonesia, menegaskan bahwa kondisi lesu tidak boleh menjadi alasan untuk mengobral karya.
“Jangan sampai kita sendiri merusak nilai karya kita. Kualitas harus dijaga. Mungkin sekarang belum banyak terjual, tetapi ke depan pasti ada waktunya,” katanya.
Ia juga menyoroti perlunya penataan sistem komisi agar tidak merusak ekosistem seni. Menurutnya, tata niaga yang sehat menjadi bagian penting dari upaya membangkitkan kembali gairah seni lukis Bali, bukan hanya melalui pameran, tetapi juga melalui distribusi yang adil. (Wikan)
Komentar