Hari Suci Galungan: Meneguhkan Dharma dan Membangun Kesadaran Ekoteologi Hindu

Rabu, 17 Juni 2026

Card image

Dr. Putu Eka Sura Adnyana,Akademisi Prodi Filsafat Hindu UHN IGB Sugriwa Denpasar. (Foto: Dok/Pribadi)

Males Baca?

HARI Suci Galungan merupakan salah satu hari raya terbesar dalam tradisi Hindu yang memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan religius umat Hindu, khususnya di Bali. Perayaan ini dilaksanakan setiap Budha Kliwon Wuku Dungulan atau setiap 210 hari berdasarkan pertemuan sistem Wewaran dan Pawukon. 

Galungan tidak hanya dipahami sebagai perayaan ritual, tetapi juga mengandung nilai filosofis, spiritual, sosial, dan ekologis yang sangat mendalam.

Secara mitologis, masyarakat Hindu di Bali mengenal kisah kemenangan Dewa Indra atas Mayadenawa sebagai latar belakang lahirnya Hari Raya Galungan. 

Mayadenawa digambarkan sebagai seorang raja yang memiliki kesaktian luar biasa, tetapi dikuasai oleh sifat angkara murka dan kesombongan. Kekuasaan yang dimilikinya digunakan untuk melarang masyarakat melaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan menggantikannya dengan pemujaan terhadap dirinya sendiri.

Keadaan tersebut dipandang sebagai bentuk penyimpangan terhadap Dharma sehingga Dewa Indra turun untuk mengembalikan keseimbangan dengan mengalahkan Mayadenawa. 

Sejak saat itu kemenangan tersebut diperingati sebagai Hari Raya Galungan, yaitu kemenangan Dharma atas Adharma. Namun apabila ditelaah lebih jauh, kisah Mayadenawa sesungguhnya tidak hanya dimaksudkan sebagai cerita sejarah atau mitologi semata, melainkan mengandung pesan filosofis yang sangat mendalam.

Tokoh Mayadenawa merepresentasikan sifat-sifat negatif yang selalu ada dalam diri manusia, seperti kesombongan, keserakahan, kemarahan, dan egoisme.

Sebaliknya, Dewa Indra melambangkan kekuatan kebijaksanaan dan kesadaran spiritual yang mampu mengendalikan sifat-sifat tersebut. Galungan mengajarkan bahwa peperangan terbesar yang dihadapi manusia bukanlah peperangan melawan orang lain, melainkan perjuangan melawan kelemahan yang terdapat dalam dirinya sendiri.

Selain kisah Mayadenawa, mitologi Galungan juga ditemukan dalam Lontar Sri Jaya Kasunu. Dikisahkan Raja Jaya Kasunu yang baru dinobatkan merasa waswas terhadap keselamatannya karena para pendahulunya tidak berumur panjang dalam memerintah. 

Melalui tapa semadhi di setra, ia memperoleh pawisik dari Dewi Durga agar melaksanakan upacara Galungan dan memasang penjor setiap enam bulan sekali demi keselamatan, kemakmuran, serta kesejahteraan rakyat dan negara. Setelah melaksanakan petunjuk tersebut, kerajaan menjadi aman, tenteram, dan sejahtera (Suamba, 2005).


Halaman :

Komentar

Berita Lainnya