Gejolak Rupiah dan BBM Dari sudut Pandang Catur Purusha Artha
Rabu, 17 Juni 2026
I Wayan Bagus Citra Wedana, M.Ag. Dosen Fakultas Brahma Widya, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. (Foto: Dok/Pribadi)
Males Baca?PEREKONOMIAN domestik belakangan ini kembali diuji oleh gelombang ketidakpastian global yang kian nyata. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat merosot tajam hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS berdasarkan data pasar spot Bloomberg telah memicu alarm kewaspadaan nasional.
Efek domino dari tekanan nilai tukar dan beban fiskal ini langsung terasa di sektor riil ketika PT Pertamina (Persero) per pertengahan Juni ini resmi melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Salah satunya adalah jenis Pertamax (RON 92) yang melonjak hingga 32 persen, dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter untuk wilayah Jawa-Bali.
Bagi masyarakat akar rumput gejolak ekonomi ini bukan sekedar angka statistik semata, akan tetapi akan memicu penurunan daya beli masyarakat dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok di pasar.
Di tengah ketidakpastian dan kecemasan ini, sudut pandang yang jernih sangat diperlukan guna menghadirkan kesejukan sekaligus menawarkan solusi konkret bagi masyarakat. Mengkaji masalah ekonomi seyogyanya tidak hanya berhenti pada perdebatan rumus fiskal atau intervensi moneter semata. Kita perlu merefleksikannya dari kacamata teologis-filosofis, salah satunya melalui konsep Catur Purusha Artha atau empat pilar tujuan hidup manusia dalam pandangan Hindu.
Dalam tatanan kehidupan manusia, Artha (ekonomi/materi) dan Kama (keinginan/kebutuhan harian) adalah dua pilar duniawi yang mutlak diperlukan untuk menjaga keberlangsungan hidup. Manusia memerlukan stabilitas Artha yang cukup agar dapat memenuhi Kama-nya secara wajar, mulai dari urusan pangan, pendidikan, hingga mobilitas transportasi harian yang sangat bergantung pada bahan bakar.
Ketika rupiah melemah di angka yang cukup ekstrem dan harga Pertamax melonjak ke angka Rp16.250 per liter, pilar Artha masyarakat luas otomatis mengalami guncangan hebat. Meskipun pemerintah masih berupaya menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite, migrasi konsumsi dan efek psikologis pasar tetap tak terhindarkan.
Inflasi yang merangkak naik membuat pemenuhan Kama yang paling mendasar sekalipun kini terasa menuntut pengorbanan lebih tinggi bagi sebagian besar kepala keluarga. Ketidakseimbangan pada pilar Artha dan Kama inilah yang kerap menjadi pemantik keresahan sosial.
Ketika pemenuhan materi tersendat dan kebutuhan pokok menjauh dari jangkauan pendapatan, ego manusia cenderung menjadi lebih agresif, yang jika tidak dikendalikan dengan baik, dapat merusak keharmonisan tatanan sosial di masyarakat.
Di sinilah teks suci Sarasamuccaya hadir memberikan kompas moral yang tegas Artha dan Kama tidak akan pernah membawa kebahagiaan sejati dan stabilitas jika diperoleh serta dikelola tanpa landasan Dharma.
Di masa-masa sulit seperti sekarang, sinergi dari berbagai pihak sangat dibutuhkan dan Dharma atau kebenaran harus diletakkan sebagai panglima tertinggi dalam mengambil sikap. Bagi pemerintah, Dharma harus diwujudkan melalui kebijakan yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan sosial.
- TAG:
- Pelemahan Rupiah
- Nilai Tukar Rupiah
- Harga BBM Naik
- Pertamax Rp16.250
- Ekonomi Indonesia
- Krisis Ekonomi
- Daya Beli Masyarakat
- Inflasi Indonesia
- Catur Purusha Artha
- Filsafat Hindu
- Dharma Artha Kama Moksa
- Sarasamuccaya
- Ekonomi Perspektif Hindu
- Spiritualitas Hindu
- Kebijakan Fiskal
- Harga Energi
- Pertamina
- Kesejahteraan Masyarakat
- Pengendalian Konsumsi
- Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
- I Wayan Bagus Citra Wedana
- Refleksi Ekonomi
- Ketahanan Sosial
- Ekonomi Dan Spiritualitas
- Bali
- Denpasar Bali
Komentar