Chapter 7: Air yang Mulai Bergolak

Minggu, 11 Januari 2026

Card image

Yang Tertinggal dari Suara

Males Baca?

PAGI itu tidak datang dengan tenang. Cahaya matahari masuk seperti tamu yang ragu menyentuh lantai, lalu berhenti, seolah tahu ia sedang memasuki ruang yang baru saja berubah.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap kotak kayu yang semalam dibuka Ibu. Isinya belum berkurang, tapi maknanya sudah tak sama. Nama ayahku kini bukan lagi cerita sebelum tidur. Ia hidup. Ia bergerak. Ia mulai menuntut sesuatu dariku.

Namaku, Banyu, tiba-tiba terasa seperti alamat. Aku membuka satu surat lagi. Kali ini bukan tulisan panjang. Hanya beberapa baris, dicoret berulang, seperti ditulis sambil menoleh ke belakang.

Jika aku berhenti menulis, bukan karena aku tak punya suara. Tapi karena suaraku mulai mengganggu.Dadaku mengeras.

Aku menutup surat itu cepat-cepat, seolah kata-kata bisa meloncat keluar dan didengar orang lain. Saat itulah aku sadar: ayah tidak sekadar hilang. Ia pernah berada terlalu dekat dengan sesuatu yang ingin disembunyikan.

Ibu berdiri di depan pintu. Wajahnya tenang, tapi matanya tak bisa berbohong. “Tidak semua peninggalan itu aman,” katanya pelan. “Beberapa ditinggalkan karena berbahaya.”

Aku menatapnya.

“Untuk siapa?”

Ibu tak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng kecil, seperti orang yang sudah terlalu lama berdamai dengan takut.

Di luar rumah, suara motor berhenti. Langkah kaki terdengar. Dua kali ketukan di pagar. Tidak keras. Tidak juga sopan. Ketukan orang yang tidak ingin dikenali.

Jantungku berdetak lebih cepat. Ibu menahan lenganku. Genggamannya dingin. “Kalau mereka bertanya,” katanya, “bilang kau tak tahu apa-apa.”

Mereka.Satu kata itu cukup untuk membuat udara pagi menjadi berat.

Aku memasukkan beberapa surat ke dalam tas. Bukan semuanya. Hanya yang paling membuatku gelisah. Cincin perak ayah kugenggam lama, lalu kumasukkan ke saku. Dinginnya menetap, seperti pengingat bahwa keberanian selalu punya harga.

Ketukan itu terdengar lagi. Lebih dekat.

Aku menarik napas.

Aku tahu, sejak pagi itu, diam bukan lagi pilihan yang netral.

Aku melangkah keluar kamar bukan untuk menjadi ayahku,

tapi karena aku menolak hidup tanpa memahami mengapa ia harus dibungkam.

Air tidak selalu mengalir tenang.

Kadang ia menghantam batu.

Kadang ia meluap.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya,

aku tahu: namaku bukan warisan.

Ia adalah panggilan.

(Bersambung)


Komentar

Berita Lainnya