Chapter 6  Bimbang dalam Arti

Senin, 11 Agustus 2025

Card image

Yang Tertinggal dari Suara

Males Baca?

MALAM itu, kata-kata Ibu menggema dalam keheningan kamarku, berat dan menusuk seperti hujan deras yang membasahi tanah kering.

“Namamu bukan sekadar kata. Banyu bukan cuma air yang mengalir, tapi juga nama ayahmu. Lelaki yang telah hilang, tapi darahnya mengalir dalam dirimu.”

Aku terdiam, udara dingin menusuk kulit di antara celah jendela yang terbuka. Suara jangkrik dan gemerisik daun menyatu dengan bisik itu, membuat malam terasa lebih sunyi dan penuh teka-teki.

Baca juga:
Yang Tertinggal dari Suara

 

Ibu menyerahkan sebuah kotak kayu kecil, berat dan berdebu seperti menyimpan rahasia zaman. Di dalamnya, barang-barang peninggalan ayah, surat-surat berisi tinta yang hampir pudar.

Foto-foto hitam putih yang menangkap sorot mata penuh tekad dan luka, cincin perak dingin yang selalu melekat di jari ayah, serta tulisan-tulisan yang tak pernah sempat terbit suara-suara yang terbungkam oleh waktu dan kekuasaan.

Aku menyentuh satu per satu, bau kertas tua menusuk hidungku, dingin logam cincin mengalirkan getar yang aneh di kulit. Rasa kagum bercampur takut berputar dalam dadaku, seperti arus deras yang mencoba kutahan tapi tak mungkin.

Baca juga:
CHAPTER 2: DI ANTARA KAMAR DAN KEPALA

“Ayahmu bukan hanya cerita,” suara Ibu pelan, “Dia adalah nyala api dalam kegelapan yang tak pernah padam.”

Tapi aku masih bingung. Kenapa aku harus membawa beban yang terasa terlalu berat? Apakah aku cukup kuat untuk memikulnya?

Apa aku mampu meneruskan perjuangan yang bahkan aku belum sepenuhnya mengerti?

Baca juga:
Chapter 3: Di Antara Surat dan Suara

Suara radio dari rumah tetangga pecah dengan berita demonstrasi yang berakhir ricuh di kota. Dunia di luar sana masih bergolak, penuh dengan bisu yang tak terdengar dan suara-suara yang dicekik.

Aku duduk termenung, memandangi cermin usang di sudut ruangan. Bayangan wajahku bertemu dengan bayangan lelaki di foto itu. Dua dunia berbeda yang kini terikat dalam satu nafas.

Malam itu aku berjanji pada diri sendiri, meski dalam ketakutan dan keraguan: aku akan mencari jalanku, seperti air yang mengalir terus meski harus menembus batu dan jurang. Aku akan menyalakan api itu, dengan caraku sendiri.

Ditulis Oleh: I Dewa Gede Fathur Try Githa/ Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Universitas Pendidikan Ganesha

 


Komentar

Berita Lainnya