Antara Dharma dan FOMO: Swadhaya Brahma Widya Kritik Praktik Ritual yang Kehilangan Makna
Selasa, 03 Maret 2026
Dr. Hari Harsananda dan I Gede Wirawan saat menjadi narasumber dalam Swadhaya Akademik Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Selasa (3/3/2026). Forum ini membedah makna Sakramen (Samskara) dalam Manava Dharmasastra serta relevansinya di tengah dinamika praktik ritual masyarakat modern Bali. (Foto: Ist)
Males Baca?DENPASAR,SULUHRAKYAT.id - Di tengah praktik ritual yang kian megah dan sarat simbol, pertanyaan mendasar kembali diajukan apakah sakramen masih dipahami sebagai proses penyucian diri, atau telah bergeser menjadi kewajiban sosial yang dijalankan demi gengsi dan tekanan lingkungan?
Pertanyaan itu mengemuka dalam forum Swadhaya Akademik Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Selasa (3/3/2026), yang mengangkat tema “Sakramen (Samskara) dalam Manava Dharmasastra” dengan fokus kajian Sloka 26–40 Buku Kedua.
Dr. Hari Harsananda menegaskan bahwa samskara bukan sekadar seremoni. “Samskara adalah proses transformasi. Ia menandai perubahan kualitas manusia, bukan hanya perubahan status sosial. Kalau hanya berhenti pada upacara, maka kita kehilangan substansinya,” ujarnya.
Ia mengaitkan ajaran dalam Manava Dharmasastra dengan teori ritus peralihan dari Arnold van Gennep yang membagi kehidupan manusia ke dalam tiga fase: perpisahan, masa peralihan (liminal), dan integrasi kembali.
“Setiap fase hidup manusia itu sakral. Lahir, dewasa, menikah, hingga meninggal adalah tahapan yang mengandung pendidikan moral. Kematian pun bukan akhir, melainkan transformasi menuju keberlanjutan eksistensi,” jelasnya.
Namun ia mengingatkan, ajaran tersebut tidak boleh dipahami sebagai kekakuan struktur sosial semata.“Esensi yang harus dijaga adalah kesucian dan tanggung jawab moralnya. Struktur sosial hanyalah kerangka, bukan tujuan," tegasnya.
Diskusi menjadi kontekstual ketika praktik ritual di era modern disorot. Mengutip pemikiran Émile Durkheim, Dr. Hari menyinggung kecenderungan agama yang kadang berakar pada rasa takut, terutama terhadap kematian.
“Ketika rasa takut lebih dominan daripada kesadaran, ritual bisa berubah menjadi simbol kosong, bahkan kultus. Padahal ritual sejatinya media edukasi dan transformasi moral,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan fenomena metatah yang dalam beberapa kasus lebih menonjolkan aspek estetika dibanding makna spiritual.
Komentar