Sastra


Chapter 7: Air yang Mulai Bergolak

PAGI itu tidak datang dengan tenang. Cahaya matahari masuk seperti tamu yang ragu menyentuh lantai, lalu berhenti, seolah tahu ia sedang memasuki ruang yang baru saj...

Chapter 6  Bimbang dalam Arti

MALAM itu, kata-kata Ibu menggema dalam keheningan kamarku, berat dan menusuk seperti hujan deras yang membasahi tanah kering. “Namamu bukan sekadar ka...

Chapter 5 – Epilog: Banyu Kembali ke Air

TUBUHNYA muncul kembali setelah tiga hari menghilang,dibawa ombak ke sebuah teluk kecil yang tak bernama terlalu terpencil untuk dicatat di peta. Laut mengembalikann...

Chapter 4: Sunyi yang Tak Kembali

SUDAH tiga hari Banyu tak terlihat di kantor. Tak di meja kerjanya, tak di grup redaksi, tak di kamar kontrakannya yang sempit. Bahkan email dan teleponnya sepe...

Chapter 3: Di Antara Surat dan Suara

SEBELUMNYA, Banyu selalu percaya bahwa kejujuran cukup jadi alasan untuk menulis. Tapi pagi itu, duduk di ruang redaksi yang lebih mirip ruang tunggu ketakutan, ia m...

CHAPTER 2: DI ANTARA KAMAR DAN KEPALA

KAMAR itu tak besar, tak juga ramah. Dua kali tiga meter, dindingnya lembap, cat mengelupas di sudut yang menghadap timur. Bau kopi basi dan sisa nasi bungkus semala...

Yang Tertinggal dari Suara

Chapter 1: Di Antara Naskah dan Nyali: KADANG, suara bukanlah gema dari pita suara melainkan jerit yang tercekat di dada. Banyu tahu itu sejak pertama kali berita...