Sela


Bale Subak dan Kritik yang Kehilangan Etika

PAGI itu kami duduk di sebuah bale subak di Tabanan. Bangunannya sederhana, terbuka di keempat sisi, menghadap hamparan sawah yang masih basah oleh sisa aliran air....

Jurnalisme Bukan Kerja Instan

PAGI itu kami duduk di bale subak di Buleleng. Di utara Bali, alur air terasa berbeda lebih panjang, lebih sabar, dan tidak tergesa mencapai sawah-sawah yang menungg...

Kambing Hitam di Meja Kopi

SORE di Denpasar selalu punya cara sendiri untuk memperlambat waktu. Di sebuah coffee shop yang entah kenapa kini lebih sering jadi ruang diskusi ketimbang tempat me...

Kambing Hitam di Meja Kopi

Dari Penimbangan, Kami Membicarakan Pilkada yang Tak Lagi Memilih

SORE itu Pantai Penimbangan tidak ramai. Hanya ombak kecil, bau asin, dan sisa lelah setelah bimbingan tesis yang rasanya lebih berat dari ransel di punggung. Kam...

Guru, Sertifikat, dan Ingatan yang Dipangkas

  AKU bertemu Siti lagi lewat layar. Bukan di kampus, bukan di lorong fakultas yang dulu kami lewati dengan map lusuh dan harapan sederhana. Kami bertemu lew...

Sampah yang Menumpuk, Kesadaran yang Tertinggal

SETIAP hari, ribuan ton sampah bergerak perlahan di Bali, menumpuk di tempat-tempat pembuangan, menunggu tangan peduli. TPA Suwung yang akan ditutup bukan sekad...

Mandiri dari Dapur: Revolusi Sampah Dimulai dari Mata

KITA di Bali punya dua wajah. Satu yang ditunjukkan ke dunia  bersih, indah, penuh bunga dan senyum ramah. Satunya lagi tersembunyi di belakang dapur, di b...

Satu Sarjana, Satu Peluang, Satu Harapan

AGUSTUS ini, Pemprov Bali meluncurkan sesuatu yang lebih dari sekadar program: Satu Keluarga Satu Sarjana. Sebanyak 1.450 mahasiswa dari keluarga miskin akan k...

Jangan Sesumbar Bila Belum Terbukti

PESISIR Pantai Penimbangan, Singaraja, sore selalu datang dengan bau garam yang setia. Perahu-perahu kecil bersandar, menunggu esok. Di sini, nelayan lebih b...

Kami Tak Tahu Lagi Siapa Wakil Kami

SEBUAH pagi yang murung menyambut lelaki tua yang duduk di balai banjar. Di tangannya tergenggam selembar kertas lusuh berisi nama-nama caleg dan nomor urut sis...

Mimpi Hijau dari Desa

"Jika kamu punya cerita dari desa yang patut didengar publik, tuliskan pada kami. Karena dari desa lah nyala perubahan bisa dimulai" HARI itu, aula Widy...

Mimpi Hijau dari Desa

Kampung Halaman Tak Lagi Menyambut Pulang

"Aku pulang. Tapi kampung halaman seperti lupa caranya menyambut,"  Jalan berlubang menyapa sejak masuk gapura desa. Di ujung gang tempatku tumbuh,...

Anak Klungkung dan Budaya Diam

"Saya tak tahu harus bertanya ke siapa. Dulu waktu kecil, saya pernah bertanya kenapa sawah kami dijual. Jawabannya: jangan ikut campur urusan orang tua."&...

Kota Ini Tak Menyambut Anak Pulang?

“Apa gunanya anak sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya kerja jauh dari rumah? Di sini apa yang bisa dikerjakan?” Kalimat itu terlontar dari seorang bapa...

Klungkung dan Kekosongan Intelektual Struktural

"Kami ingin anak-anak bisa kuliah di dekat rumah. Tapi di sini tak ada kampus negeri. Harus ke Denpasar, ke Singaraja, atau keluar pulau. Yang tertinggal hanya...

Kusamba: Laut yang Tak Pernah Tidur

"Nyalakan dulu baranya.Sebelum bicara tentang laut dan rakyat, kita perlu menyalakan kesadaran. Tak cukup sekadar peduli, apalagi sekadar datang untuk berfoto....

Klungkung: Kecil di Peta, Besar di Luka

“Kadang kita tak butuh keramaian untuk mengerti, cukup sejenak duduk dan menyimak. Di sela-sela itulah suara rakyat paling jujur biasanya muncul. Tak perlu nya...